Postingan

( SEKOLAHAN ) PELAJARAN BAHAYA YAHUDI CS PADA ANAK-ANAK

  Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syariat Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah Kapur!, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah Penghapus! Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat. Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah Penghapus!, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah Kapur!. Dan permainan diulang kembali. Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada m...

Tidak Bahagia Jika Membandingkan dengan Orang Lain

Jika kebahagiaan diukur dengan materi, pasti banyak orang miskin yang menderita, dan orang kaya tidak ada yang bunuh diri. namun, ternyata kebahagiaan tidaklah diukur dengan materi, karena materi hanya bersifat sementara.

Implementasi tauhid dalam kehidupan yang lebih luas

Ibarat pohon, aqidah itu, jika akarnya baik dan ditopang dengan batang yang kuat, maka akan menghasilkan buah yang enak/baik pula. Begitupun dengan tauhid, jika tauhid kita benar dan hukum (syariah) yang dijalankan dengan baik maka akan berbuah akhlak yang terpuji. contoh kasus Black Hole - ketika tanpa tauhid yang kuat kita akan melakukan tindakan yang tidak terpuji seperti film 'Black hole', melakukan tanpa takut Allah akan melihatnya. sementara jika diperkuat dengan tauhid yang baik, semua hal yang mendorongnya untuk berbuat tidak baik maka tidak akan dilakukannya. -dengan tauhid kita bisa mengendalikan diri, ketika senang kita tidak berada dalam kesenangan yang melampaui batas, dan ketika kita drop kita tidak berada dalam drop yang berlebih (bunuh diri). sementara orang tanpa tauhid, dia tidak bisa mengendalikan dirinya, jika senang dan melampaui batas dia bisa sampai menggunakan narkoba, jika sedih dan melampaui batas dia bisa sampai bunuh diri

Apa itu Tauhid?

Tauhid adalah mengesakan Allah, percaya kepada Allah dengan sepenuhnya. Hidup, mati, bernafas, makan dll itu hanya karena Allah semata. - Mencintai orang lain hanya karena Allah -Berpisah hanya karena Allah -Bertemu hanya karena Allah seluruh hidupnya hanya akan diberikan kepada Allah, jika ada seorang pemimpin yang menjauhkan dirinya kepada Allah dia tidak akan patuh kepada pemimpinnya. patuh kepada pemimpin hanya karena Allah. patuh pada peraturan negara hanya karena Allah pula. jadi Tauhid itu adalah segala sesuatu baik perbuatan, lisan, dan hati dilakukan hanya karena Allah dan mencari/ mengharap Ridha dariNya

Indra, Akal, Qalbu, mana yang akan mengantarkan kita untuk mengenal Allah?

Qalbu dapat mengantarkan manusia untuk mengenal Allah Qalbu adalah mata yang sebenar-benarnya. Qalbu (hati) dapat dikatakan indera ke-6 akal. Akal hanya mampu pada saat kita sadar. Namun Qalbu mampu pada saat kita tidak sadar sekalipun. contoh kasus: Imam Ghazali seorang pemikir yang kuat dan cerdas, bahkan dia tidak percaya akan adanya Allah sebagai pencipta. Imam Ghazali seorang filosop yang terkenal, ilmu-ilmunya banyak digunakan. Namun ada saat ketika dia lelah akan akalnya yang berfikir Allah itu tidak ada, namun di sisi lain Imam Ghazali dalam lubuk hatinya mempertanyakan akan adanya Tuhan. Imam Ghazali menggunakan qalbu dalam pertanyaannya selama ini. sehingga dengan bertasawuf (mensucikan diri) di benar-benar mengakui adanya Allah. sehingga Imam Ghazali berubah menjadi seorang yang ahli agama. karya-karyanya sangat terkenal hingga sekarang. #Sudah jelas, dengan hatilah manusia dapat mengenal Allah. wallahualam bishoab

Dinamika keimanan dalam diri manusia khususnya dalam perspektif Psikologi

ketika kita memiliki iman kepada Allah dengan membenarkannya dalam hati, diucapkannya dengan lisan, dan dilaksanakan dengan perbuatan, akan terlahir pribadi yang baik atau akhlak yang terpuji karena ketika telah kokoh (Aqidah tidak tergoyahkan) maka perbuatan yang tidak Allah sukai malah Allah larang niscaya kita tidak akan melakukannya. contoh kasus: saat ada dompet yang terlihat di kantong orang disamping kita, secara logika itu adalah kesempatan yang baik untuk mencuri, namun karena telah tertanam iman yang kuat dan membuktikannya dengan perbuatan, maka mencuri itu tidak akan dilakukannya.

Iman Kepada Allah

a. Pembenaran dalam hati (tashdiq bi al-qalb): Iman itu percaya akan adanya Allah, dengan percaya menggunakan hati maka kita akan adanya pengakuan yang lemah. karena dalam sabdanya: “Selemah-lemah iman adalah menggunakan hati”. jadi percaya pada Allah adalah dengan membenarkannya melalui hati, diucapkan dengan lisan dan dilakukan dengan perbuatan. b. Diucapkan dengan lisan (qawl bi al-lisan) : Iman tanpa diucapkan dengan lisan menjadi kurang sempurna. di ibaratkan ketika kita mencintai namun tidak mengungkapkannya dengan lisan maka tidak aka nada kepercayaan dari orang lain atas rasa cinta yang kita miliki, bahkan orang lain tidak akan mengetahui kecintaan kita kepada Allah karena kita tidak mengucapkannya dengan lisan. c. Dilaksanakan dengan amal perbuatan (amal bi al-arkan) : ketika kepercayaan (iman) telah ada didalam hati, dan diucapkannya dengan lisan maka penyempurnanya adalah dengan amal perbuatan. ibarat cinta kita telah ada dihati, lalu kita mengutarakannya dengan lisan...