Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Ayah Kenapa kau Jahat pada Anakmu Sendiri

Kisah ini diambil dari kisah nyata dari teman penulis. Hal ini bisa terjadi pada siapa saja dan dimana saja. 

Kampus Peradaban

Mereka yang mencoba untuk menetralkan suasana dua organisasi yang sama namun berbeda. Hal ini tak ayal. Organisasi extra menjadi korban karena harus selalu mencoba mengikhlaskan kadernya untuk aktif juga di organisasi intra. Bukan berarti saya tidak menyukainya, karena saya berada didalamnya juga. Tapi, apakah ini sebuah keadilan dan kebijaksanaan yang dibuat? “Bukan memikirkan kenapa, tetapi bekerjalah sebagaimana porsinya (professional)”, yah ini kutipan dari seorang kaka kelas yang tidak mungkin saya sebut namanya ditulisan ini. Akhirnya saya mencoba untuk tidak memikirkan kenapa kader tidak terikat dalam gerakan ini. Berawal di kampus peradaban Tepat di tahun 2011, saya masuk sebagai mahasiswa di kampus peradaban ini, mengenal mahasiswa lain dari berbagai daerah. Perubahan drastis ini, membuat kelabakan saya sebagai mahasiswa baru yang tidak terlalu banyak teman yang satu almamater di SMA dlu. Karena, diangkatan saya hanya saya dan ‘Tya’ yang lolos masuk ke kampus peradaba...

Pernah rasain ini?

Di waktu yang sama. kita diminta untuk datang dalam acara kajian, tapi dilain tempat juga kita diminta untuk mengikuti kajian juga. belum rapat sebagai panitia ada tiga bagian. entah dari divisi sendiri, divisi orang lain, divisi organ pusatnya. rapat divisi orang lain di organisasi berbeda, rapat di organisasi sedaerah. latihan pengasahan skill, mengajar. dan tuntuttan kuliah. huaah. serasa, diri ini memiliki ribuan tangan untuk menggapai semua ini. lelah memang, tapi ini amanah yang menuntut untuk tetap disini walaupun, kadang tidak full semua aku datangi dan full aku kontribusi disini. tapi inipun menjadi sebuah tanggungjawab, dan konsekuensi atas pengambilan keputusan ku yang lalu. perasaan takut menghantui, takut IP jatuh, takut melukai hati orang lain, takut karena tidak konsisten, takut untuk menghindar. pernah untuk menolak. menurutku, sah-sah saja untuk menolak amanah, karena kita merasa belum sanggup menaruh semua amanah yang memang kita tau kapasitas diri kita. tapi te...

Aku Sudah Teguh

Pagi itu, bunyi handphoneku berdering. Dan ketika kulihat nama pemanggilnya ternyata si Ariqah menelponku. Kuambil handphone lalu ku angkat “assalamu’alaikum, ada apa Qah?” “wa’alaikumsalam, gini Shel. Aku ada perlu sama kamu. Bisa ketemu? Aku pengen curhat sama kamu” “wah.. iya boleh boleh. Tapi aku ga bisa jam segini. Gimana kalo jam 10 aja? Maunya dimana?” “dirumah kamu aja yah.. Ok nanti jam 10 aku ke rumah kamu ya Shel” Pembicaraan kami terputus setelah mengucapkan salam. Sementara aku melanjutkan pekerjaan pagi selayaknya pekerjaan ibu rumah tangga. Setelah beres-beres rumah, aku langsung bergegas mandi agar ketika Ariqah datang aku sudah cantik dan wangi. Jam dinding menunjukkan pukul 10.30, Ariqah belum jua terlihat batang hidungnya di depan rumah, bahkan untuk memberikkan kabar lewat handphone saja tidak ada. Akupun langsung mengambil handphone dan mengirim pesan singkat ke dia. “Asalam.. Qah, jadi kerumah ndak?” pesan pun aku kirim kepada Ariqah. Beb...